Home / Inspiratif / Saya, Pak Wawan dan Nabi Khidir

Saya, Pak Wawan dan Nabi Khidir

Sabtu, Tanggal 6 Juli 2013 kemarin, disela-sela pelatihan Fun Tamyiz tepatnya waktu istirahat makan siang saya berbincang-bincang dengan Pak Wawan. Kadang-kadang ketika dalam setiap kegiatan Himmatu saya tidak begitu fokus mengikuti kegiatan, nglambrang, melihat raut wajah anak-anak yatim yang entah apa yang terbesit dalam pikirannya, mbah Dadi, teman-teman trainer. Sering saya berpikir, ngapain mereka di sini? Apa yang mereka cari.

Pak Wawan, laki-laki yang tidak (belum) saya ketahui berapa umurnya, beristri satu beranak tiga (kalau ndak salah). Pertama kali saya dengar nama beliau ini dari Ibu saya, kadang selepas ngaji malam jumat Ibu saya cerita. “Pak Wawan punya kotak yang bisa muter rekaman bacaan Al-Quran, besok tolong dibelikan” “kata Pak Wawan sekarang ada Al-Quran model baru, halamannya sama terus”. Pak Wawan itu siapa ya, kata saya dalam hati.

Yang paling sering, akhir-akhir ini ketika sejak saya ngaji di Himmatu, kurang lebih sebulanan yang lalu, ketika ada sebuah mobil lewat bertulisan HIMMATU, Ibu saya bilang “Kae Pak Wawan wis liwat! Gek menyang neng gone Aang (Anggoro) kono”

Siang itu saya ganggu pak Wawan ketika lagi makan, walaupun tidak lama banyak ilmu yang dapat saya peroleh. Besok-besok akan saya tanyai seluruh trainer dan saya mintai kisah inspirasi dan motivasinya di Himmatu. Awalnya saya tanya motivasi beliau ini di Himmatu. Ada tiga hal yang yang beliau sampaikan kepada saya, tapi saya lupa hehe. Kalau ingat akan saya buatkan tulisan dengan judul lain.

 

Selepas berbincang dan makan kami lanjutkan ngobrol sambil berjalan menuju ke masjid.

“Mas, tahu gak surat Akhiru Zaman?” Tanya Pak Wawan.

“Mmm… surat Akhiru Zaman??” Tanya saya balik, karena agak kurang dengar, hehe. Saya belum pernah dengar dan sepertinya di Al-Quran tidak ada.

“sepertinya saya belum pernah dengar.. itu sebutan lain untuk sebuah surat kah?” Tanya saya.

“Iya, itu adalah sebutan untuk surat Al Kahfi” Jawab beliau.

Saya mengangguk-angguk, sambil mendengarkan pembicaraan beliau.

“Ada beberapa infomasi dan pelajaran yang dapat kita baca dalam Surat Al-Kahfi” Kata beliau.

“Apa saja itu Pak?” langsung saya tanya beliau, sebelum saya ditanya. Hehe

“Tentang Ashabul kahfi, tentang Yajuj dan Majuj, ….” Pak Wawan sambil membuka jari-jari tangannya seperti menghitung.

“Juga ada pelajaran mengenai, seorang manusia yang mengaku paling pandai. Tau tidak mas siapa orang itu?” tanya Pak Wawan.

Waduh, siapa orang sombong itu ya. “Mmm seorang Nabi yang belajar kepada Nabi Khidir itu ya Pak? Saya lupa Nabi siapa” jawab saya.

“Sohih!” Seru Pak Wawan.

“Ada tiga peristiwa yang dialami Nabi Musa ketika berguru kepada Nabi Khidir, Apa saja itu?” tanya Pak Wawan.

Haha gampang ini, termasuk cerita favorit saya waktu keci. Langsung saya jawab.

“Melubangi kapal, membunuh anak kecil… satunya… Hmmm satunya apa ya pak kok saya lupa”.

Cleng! Benar-benar lupa dengan pelajaran yang diperoleh Nabi Musa yang satunya. Tidak ingat sama sekali. Sekan saya tidak percaya kalau saya lupa. Kemudia tidak sadar kami sudah sampai ditempat wudhu Masjid.

“Kita salat dulu mas, yang satunya buat PR ya” kata Pak Wawan

“Oke!” jawab saya.

Bagian yang saya lupa ini saya yakin adalah bagian yang ingin disampaikan Pak Wawan kepada saya, terkait dengan keberadaan dan motivasinya di Himmatu. Tapi apa, benar-benar lupa. Kemudian saya wudhu dan salat.

Ketika selesai salat saya ingat-ingat lagi, Masya Allah. Baru saya ingat, kemudah mulut saya separti tercekat. Kelu

Pak Wawan terlihat di pintu gebang masjid, sepertinya sudah mau menodong dengan pertanyaan menganei apa yang saya lupa tadi, pelajaran Nabi Khidir kepada Nabi Musa itu. Saya sudah ingat, tapi saat itu saya sudah tak mau melanjutkan pembicaraan. Kelu sekali lidah saya, memikirkan kisah terakhir yang dialami Nabi Khidir dan Nabi Musa itu. Ya Allah, semoga hamba bukan termasuk orang yang celaka.  فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ

“Sudah ingat mas?” tanya Pak Wawan.

“Sudah..” saya jawab begitu saja sambil menahan haru.

Pak wawan Himmatu yogyakarta

Bambanglipuro, 6 Juli 2013
Mohon Maaf kalau ada kesalahan penulisan,

Desi

About adminhimmatu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


two − 2 =

Scroll To Top