Home / Inspiratif / Perihal 3 Potensi Anak Yatim itu…

Perihal 3 Potensi Anak Yatim itu…

Hari sudah begitu malam, wajarnya manusia tidur dalam pelukan malam. Memikirkan apa yang akan dilakukan besok sambil menahan kantuknya, bercengkrama dengan keluarga melepas lelah atau kegiatan menyenangkan lain.

Namun tidak bagi Ustadz Wawan. Ketika saya sedang rapat.. hp berdering, sebuah ikon berwarna merah muncul di kotak pesan. Tak seperti biasanya, ada yang mengirimi pesan. Ustadz Wawan menyapa, setelah beberapa menit sebelumnya beliau saya jadikan teman di FB.

Dalam perbincangan di FB itu beliau bertanya, akhi.. tahu surat yatim?

Saya yang sedang ada rapat, langsung menanggapi chat beliau. Pada waktu itu saya di rapat hanya peserta pasif saja, sehingga sesekali saya sambi membalas pesan Ustadz Wawan.

Teman-teman tahu, surat apa itu. Ust. Wawan sudah pernah menyampaikannya waktu silaturahim Himmatu Se-Bantul. Ya! Surat dhuha. Tentu saja ini istilah ust. Wawan sendiri. Yang di dalamnya ada hikmah mengenai manusia terbaik dan beliau ini yatim. Benar sekali, Muhammad Saw.

Malam-malam begini, waktu dimana orang beristirahat masih anak yatim yang dipikirkan. Pikirku. Teringat kepada para aktivis Himmatu, yang mencurahkan kasih sayang mereka kepada anak yatim/piatu di Himmatu. Pembinaan tiap pekan, menggalang dana, mengikuti Bantul Ekspo, mendesain brosur dan poster, Outbond dan semuanya! Saat itu saya berpikir teman-teman aktivis himmatu, para trainer juga demikian. Diantara lelahnya, kesibukannya, memikirkan Himmatu. Masya Allah, indah.

himmatu yogyakarta yayasan panti

Salah satu anak didik Himmatu Bantul. Dalam Silaturahim Himmatu Se-Bantul

***

Suatu hari di musim paceklik. Aku dan wanita Arab lain mencari bayi untuk kami susui. Kami adalah murdi’at (para wanita yang menyusui bayi), sudah menjadi kebiasaan dalam masyarakat kami. Namun aku tak mendapatkan seorang bayi pun untuk disusui. Waktu itu adalah tahun yang sangat sulit. Kami menegendarai keledai putih dan kurus. Kami membawa serta unta betina yang tidak mengandung air susu setetes pun. Kami semua tidak pernah tidur di malam hari karena bayi kami selalu menangis karena rasa lapar. Kami kesulitan menyusui anak kami juga.

Unta betina kami tidak pula menyediakan apa-apa yang mengenyangkannya. Kami selalu mengharap hujan dan jalan keluar. Sampai kami sengaja datang ke Mekah. Hingga kami menemukan seorang bayi yang tiada dari kami mau menyusuinya di sebuah kampung yang dihuni oleh Bani hasyim.

biografi nabi muhammadi

Iya anak yatim. Ibunya Aminah, janda beranak satu itu, hidup miskin. Suaminya hanya meninggalkan sebuah rumah dan seorang budak, Barakah Al-Habsyiyah (Ummu Aiman). Tiada yang mau menyusui anak yatim itu lantaran tidak yakin dengan imbalannya. Malang betul nasib anak ini.

Setiap wanita yang diperlihatakannya merasa enggan untuk mengasuhnya, setelah dikatakan bahwa dirinya adalah anak yatim, dikarenakan kami selalu menaruh harapan kebaikan dari ayah si anak asuh. Kami berkata, ” Ia yatim, apa gerangan yang akan diperbuat oleh ibu atau kakeknya? Oleh karena itu, kami tidak tertarik untuk menyusui dan akan membawanya.

Tidak ada dari wanita-wanita yang bersamaku mengambilnya, selain diriku. Ketika rombongan kami sepakat untuk pulang, aku berbicara kepada suamiku, “Demi Allah, sungguh aku tidak suka untuk pulang bersama kawan-kawan wanita yang lain, sebelum mendapatkan anak susuan. Demi Allah, aku pergi menuju anak susuan yang yatim itu, dan pasti aku akan mengambilnya. Ia berkata, “Lakukan itu, semoga Allah memberi kita berkah lantaran anak itu.” Aku pergi menuju anak itu dan mengambilnya.

“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu” (QS. Adh-Dhuha: 6)

Sungguh, Nabi Muhammad Saw, sejak kecil sudah yatim. Namun Allah selalu melindunginya tidak hanya ketika beliau masih kecil. Tetapi juga dalam sirah Nabawiyah kita dapat banyak menemui kisah-kisahnya.

Nabi Muhammad seorang anak yatim, tidak mempunyai ayah yang bertanggung jawab atas pendidikannya, menanggulangi kepentingannya serta membimbingnya, tetapi Allah telah menjaganya, melindunginya dan membimbingnya serta menjauhkannya dari dosa-dosa perilaku orang-orang jahiliah dan keburukan mereka.

Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.(QS. 93:7)

Nabi, yang yatim itu melihat di kalangan bangsa Arab sendiri tentang kerendahan akidah mereka, kelemahan pertimbangan mereka disebabkan pengaruh dugaan-dugaan yang salah, kejelekan amal perbuatan mereka dan keadaan mereka yang terpecah-belah dan suka bermusuhan. Mereka menuju kepada kehancuran karena memakai orang-orang asing yang leluasa bertindak di kalangan mereka yang terdiri dari bangsa Persia, Habasyah dan Romawi. Namun Allah selalu memberikan petunjuk, bahkan sampai Islam sempurna.

Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.(QS. 93:8)

Di masa kecilnya kita tahu bagimana keadaan Nabi. Namun kita tahu, kemudia beliau menjadi orang yang kaya dan serba kecukupun. Dan beliau selalu hidup dalam tawadhu dan tidak berlebihan.

Sekiranya demikianlah saudaraku semua paradonatur Himmatu, para pemerhati juga para trainer.. keluarga Himmatu semua juga pembaca… betapa kasih saya Allah kepada Nabi Muhammad yang sedari kecil sudah yatim, miskin dan bingung. Namun Allah kemudian menjaganya, memberinya petunjuk dan mencukupinya.

Namun, saudaraku sekalian donatur yang budiman serta keluarga besar Himmatu. Allah memberikan itu tidak cuma-cuma, Nabi berikhtiar dan berdoa.

 “Aku telah mengalami berbagai penganiayaan dari kaumku. Namun, penganiayaan terberat yang pernah aku rasakan ialah pada hari ‘Aqabah ketika aku datang dan berdakwah kepada Ibnu Abdi Yalil bin Abdi Kilal, tetapi tersentak dan tersadar ketika sampai di Qarnu’ts-Tsa’alib. Lalu aku mengangkat kepala dan pandanganku. Tiba-tiba muncul Jibril memanggilku seraya berkata, ’Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan dan jawaban kaummu terhadapmu, dan Allah telah mengutus malaikat penjaga gunung untuk engkau perintahkan sesukamu.” Rasulullah Saw. melanjutkan, “Kemudian malaikat penjaga gunung memanggilku dan mengucapkan salam kepadaku. Ia berkata, ’Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan kaummu terhadapmu. Aku adalah malaikat penjaga gunung. Rabb-mu telah mengutusku kepadamu untuk engkau perintahkan sesukamu. Jika engkau suka, aku bisa membalikkan Gunung Akhsyabin ini ke atas mereka.” Jawab Rasulullah, “Aku menginginkan Allah berkenan menjadikan anak keturunan mereka generasi yang menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun.” (HR Bukhari Muslim)

 

Desi, Ditulis berdasarkan dari renungan ustadz Wawan mengenai surat Ad-dhuha.

Sumber Bacaan :

  1. Air Mata nabi
  2. Biografi Rasulullah (Qisthi Press)
  3. Tafsir Ad-Dhuha keluaran Kemenag

 

Salam, Hakadza!

About adminhimmatu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


− 4 = one

Scroll To Top