Home / Tausyiah / Menari di Atas Batas, part-1

Menari di Atas Batas, part-1

menari diatas batasDalam dekapan ukhuwah, harmoni sekokoh janji dijaga oleh orang-orang hebat berjiwa besar. Dalam hati mereka tersimpan cinta setegar gunung dan kesabaran seluas lautan. Merekalah orang-orang yang menari di atas batas, dalam dekapan ukhuwah.

Ibnu Taimiyah, nama itu selalu menggetarkan.

Dia yang selalu dipasang di garis depan, menjadi pejuang pengobar semangat ketika serbuan Mongol bergemuruh menerjang Damaskus. Dan dialah juga yang tiap kali tugas jihad itu usai harus bersetia menghuni selnya di penjara kota.

Dalam temaram cahaya unggun yang meretih di luar jeruji jendela sempit, Ibnu Taimiyah melihat titik-titik bening di mata para muridnya. Dia tersenyum. Kejernihan di sorot matanya menebar, mendesak gemuruh api yang memakan kayu berkeretak. Keteduhan itu, tatapan penuh kasih itu, seperti sapuan salju di dada mereka yang membara. Mereka tahu, sang guru tak pernah mengeluh. Yang ada di hatinya adalah pengabdian kepada Allah, keteguhan pada sunnah RasulNya, dan ketaatan kepada penguasa betapapun zhalimnya sang sultan padanya.

Maka jeruji-jeruji itu tak bisa menghentikannya. Disaksikan besinya yang berkarat dan temboknya yang berlumut, dia terus mengkaji, mengajar, dan menulis. Ketika satu hari salah seorang murid mengeluh betapa tak adilnya Damaskus pada sang guru, dia ucapkan kata-katanya yang menyejarah. “Apa yang mereka lakukan padaku?” kata lelaki bernama asli Taqiyyudin itu, “Jiwaku merdeka dalam Genggaman Allah. Jika aku dipenjara, jadilah ia rehat. Jika dibuang jadilah ia tamasya. Jika dibunuh, apalagi yang lebih kurindukan selain menemui Allah dengan tercatat sebagai syuhada?”

Tembok penjara tak pernah bisa menghentikannya. Dia tetap berkarya. Saat tinta, kertas, dan pena dijauhkan darinya, ditulisnya Risalatul Hamawiyah di dinding dengan arang sisa perapian. Dan dunia pun menjadi saksi, bahwa jiwanya telah menari di atas semua batas, merayakan pengabdian yang hanya ia tujukan pada Allah sepanjang hidupnya.

(Dalam Dekapan Ukhuwah, Salim A. Fillah)

About adminhimmatu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


− one = 4

Scroll To Top